A. Siklus Akuntansi
1. Pengertian Siklus Akuntansi
Siklus akuntansi adalah serangkaian proses atau tahapan yang dilakukan secara sistematis untuk mengolah data transaksi keuangan menjadi informasi berupa laporan keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Proses ini dimulai sejak terjadinya transaksi keuangan hingga penyusunan laporan keuangan dan penutupan pembukuan pada akhir periode akuntansi. Siklus akuntansi dilakukan secara berulang pada setiap periode akuntansi, misalnya setiap bulan, setiap triwulan, atau setiap tahun.
Dengan adanya siklus akuntansi, perusahaan dapat mengetahui kondisi keuangan dan hasil usaha secara akurat, sehingga memudahkan manajemen dalam merencanakan, mengendalikan, dan mengevaluasi kegiatan usaha.
2. Tahapan Siklus Akuntansi
Secara umum siklus akuntansi terdiri atas sembilan tahapan berikut.
1) Identifikasi dan Analisis Transaksi
Transaksi yang dicatat harus memenuhi syarat: memengaruhi posisi keuangan perusahaan, dapat dinilai dengan satuan uang, memiliki bukti transaksi yang sah.
Contoh transaksi:
Pemilik menyetor modal Rp30.000.000.
Membeli peralatan Rp5.000.000.
Membayar listrik Rp400.000.
Menerima pendapatan jasa Rp2.500.000.
2) Mencatat Transaksi ke dalam Jurnal
Setelah transaksi dianalisis, langkah berikutnya adalah mencatat transaksi ke jurnal umum atau jurnal khusus.
Tujuan jurnal adalah mencatat transaksi berdasarkan urutan waktu (kronologis).
3) Memposting ke Buku Besar
Posting adalah memindahkan data dari jurnal ke buku besar sesuai nama akun.
Tujuan posting:
- mengetahui saldo setiap akun,
- mempermudah penyusunan laporan keuangan.
4) Menyusun Neraca Saldo (Trial Balance)
Neraca saldo adalah daftar saldo seluruh akun dalam buku besar pada akhir periode.
Tujuan:
memeriksa keseimbangan saldo debit dan kredit, menjadi dasar penyusunan jurnal penyesuaian.
Jika jumlah debit sama dengan jumlah kredit, pencatatan secara matematis dianggap seimbang, meskipun masih perlu memastikan tidak ada kesalahan klasifikasi atau transaksi yang terlewat.
5) Menyusun Jurnal Penyesuaian
Pada akhir periode sering ditemukan akun yang harus disesuaikan agar mencerminkan kondisi sebenarnya.
Contohnya:
- Penyusutan peralatan
- Beban listrik yang masih harus dibayar
- Perlengkapan yang telah dipakai
- Pendapatan yang masih harus diterima
- Pendapatan diterima di muka
- Beban dibayar di muka
6) Menyusun Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
Setelah jurnal penyesuaian diposting ke buku besar, perusahaan menyusun neraca saldo yang telah disesuaikan.
Tujuannya:
- memastikan saldo akun sudah benar,
- menjadi dasar penyusunan laporan keuangan.
7) Menyusun Laporan Keuangan
Tahap terpenting dalam siklus akuntansi adalah menyusun laporan keuangan.
Laporan yang disusun meliputi:
a. Laporan Laba Rugi
b. Laporan Perubahan Modal
c. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
d. Laporan Arus Kas
e. Catatan atas Laporan Keuangan
8) Menyusun Jurnal Penutup
Setelah laporan keuangan selesai dibuat, akun nominal ditutup agar saldo kembali nol pada awal periode berikutnya.
Tujuannya agar periode akuntansi berikutnya dimulai dengan saldo akun nominal yang baru.
9) Menyusun Neraca Saldo Setelah Penutupan
Tahap terakhir adalah membuat neraca saldo setelah penutupan.
Neraca saldo setelah penutupan menjadi dasar untuk memulai pencatatan pada periode akuntansi berikutnya.
C. Bagan Siklus Akuntansi
D. Bukti Transaksi
Di dalam akuntansi yang dimaksud dengan bukti transaksi adalah sebuah dokumen yang menjadi bukti bahwa sebuah transaksi telah dilaksanakan.
Bukti transaksi juga dapat diartikan sebagai dokumen yang dapat digunakan sebagai tanda bukti bahwa suatu transaksi telah dilaksanakan maupun bukti suatu pihak belum bertanggung jawabkan kewajiban pada pihak lainnya.
1. Jenis Bukti Transaksi
Dalam keuangan dan bisnis terdapat dua jenis bukti transaksi di perusahaan
1) Bukti Transaksi Internal
Ya itu bukti transaksi yang terjadi di dalam perusahaan itu sendiri tidak melibatkan pihak luar perusahaan. Contohnya adalah memo, transaksi gaji karyawan.
2) Bukti Transaksi Eksternal
Ya itu butuh transaksi yang terjadi dengan melibatkan pihak-pihak di luar perusahaan. Contohnya bukti transaksi pembelian bukti transaksi penjualan.
2. Manfaat bukti transaksi
- Mengetahui pihak yang bertanggung jawab atas transaksi
- Menjadi dasar untuk mencatatkan akuntansi
- Mengurangi kesalahan dalam cabang barang maupun uang
- Menghindari duplikasi pada saat pengumpulan data keuangan
3. Macam-Macam Bukti Transaksi
1. Faktur Penjualan
Faktur penjualan dikeluarkan oleh penjual kepada pembeli pada saat penawaran barang dan jasa. Faktor penjualan digunakan sebagai bukti transaksi yang dinyatakan bahwa barang atau jasa yang telah dibeli oleh seseorang secara kredit.
- Memberikan informasi mengenai barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen
- Memberikan informasi mengenai nilai tagihan dan Terminal pembayaran yang harus diproses pembayarannya pembayarannya oleh pembeli
- Sebagai dasar bukti jika terjadi kesalahan dalam pengiriman barang yang dilakukan oleh penjual agar pembeli dapat melakukan perbaikan kepada penjual
Bukti Kas masuk sebagai tanda bahwa perusahaan menerima uang tunai dari sumber eksternal seperti pelanggan, investor, maupun bank.
- Sebagai bukti nyata transaksi karena tertampil detail barang dan jasa serta harganya
- Sebagai bukti terakhir pembayaran yang harus dilunasi oleh pembeli sebagai bukti informasi saat melakukan penagihan
- Sebagai dokumen yang sah untuk dapat melakukan pembukuan dalam akuntansi
- Sebagai dokumen yang sah saat melakukan klaim dari pihak pembeli kepada penjual setiap barang atau jasa yang diberikan tidak sesuai dengan pesanan
- Sebagai dokumen yang dapat menunjukkan keadaan persediaan barang terbaru setelah dilakukan pembelian
7. Voucher Kas Kecil
Komentar
Posting Komentar