Langsung ke konten utama

Menentukan Jenis dan Jumlah Produksi

 1. Pengertian Jenis Produksi

Jenis produksi adalah produk yang dipilih untuk dibuat atau dihasilkan oleh suatu usaha berdasarkan kebutuhan pasar dan kemampuan usaha.

Contoh:

Bidang Usaha /Jenis Produk

Kuliner : Keripik singkong, donat, roti

Fashion : Kaos sablon, tote bag

Kerajinan : Gantungan kunci, souvenir

Jasa Digital : Desain grafis, editing video

Pentingnya Menentukan Jenis Produk

Memenuhi kebutuhan konsumen.

Mengurangi risiko produk tidak laku.

Memanfaatkan sumber daya secara optimal.

Meningkatkan keuntungan usaha.

2. Faktor yang Mempengaruhi Penentuan Jenis Produk

a. Kebutuhan dan Keinginan Pasar

Produk harus sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Contoh: Saat musim hujan, permintaan minuman hangat meningkat.

b. Tren Pasar

Produk yang sedang populer memiliki peluang penjualan lebih tinggi.

Contoh:

Minuman boba, dessert box, kopi susu kekinian.

c. Ketersediaan Bahan Baku

Produk yang dipilih harus didukung bahan baku yang mudah diperoleh.

d. Modal Usaha

Jenis produk harus disesuaikan dengan kemampuan modal yang dimiliki.

e. Keterampilan SDM

Kemampuan tenaga kerja mempengaruhi jenis produk yang dapat dihasilkan.

f. Teknologi dan Peralatan

Peralatan produksi harus mendukung pembuatan produk.

3. Analisis Kebutuhan Pasar

Sebelum menentukan jenis produk, pelaku usaha perlu melakukan analisis pasar.

Cara Analisis Pasar

a. Observasi

Mengamati produk yang banyak diminati masyarakat.

b. Wawancara

Bertanya langsung kepada calon konsumen.

c. Kuesioner

Menyebarkan angket kepada calon pelanggan.

d. Studi Kompetitor

Menganalisis produk yang dijual pesaing.

Contoh Hasil Survei

Produk Jumlah Peminat

Keripik Pisang 30 orang

Brownies 20 orang

Donat 40 orang

Berdasarkan data tersebut, produk yang paling diminati adalah donat.


4. Menentukan Jumlah Produksi

Jumlah produksi adalah banyaknya produk yang akan dibuat dalam periode tertentu.

Penentuan jumlah produksi harus mempertimbangkan:

a. Permintaan Pasar

Jumlah produksi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

b. Kapasitas Produksi

Kemampuan usaha menghasilkan produk.

c. Ketersediaan Bahan Baku

Persediaan bahan harus mencukupi.

d. Modal Produksi

Jumlah modal yang tersedia untuk membeli bahan dan membayar biaya produksi.

e. Tenaga Kerja

Jumlah pekerja yang tersedia.

5. Cara Menghitung Jumlah Produksi

Rumus Sederhana

Jumlah Produksi = Permintaan Pasar + Persediaan Cadangan

Contoh Kasus

Permintaan pasar = 200 kemasan

Cadangan = 10% × 200 = 20 kemasan

Jumlah Produksi = 200 + 20

= 220 kemasan

Maka jumlah yang diproduksi adalah 220 kemasan.


6. Risiko Kesalahan Menentukan Jumlah Produksi

Produksi Terlalu Banyak

Akibat:

Produk menumpuk.

Modal tertahan.

Risiko kerusakan produk.

Produksi Terlalu Sedikit

Akibat:

Kehilangan peluang penjualan.

Konsumen beralih ke pesaing.

Pendapatan menurun.

7. Langkah Menetapkan Jenis dan Jumlah Produksi

Langkah 1

Mengidentifikasi kebutuhan pasar.

Langkah 2

Menganalisis tren dan peluang usaha.

Langkah 3

Menentukan produk yang akan dibuat.

Langkah 4

Menghitung kapasitas produksi.

Langkah 5

Menentukan jumlah produksi.

Langkah 6

Menyusun rencana produksi.

E. Contoh Studi Kasus

Kelompok siswa SMK akan menjalankan usaha makanan ringan.

Hasil survei menunjukkan:

Produk Jumlah Peminat

Keripik Pisang 50

Keripik Singkong 35

Stik Talas 15

Kapasitas produksi kelompok adalah 60 kemasan per minggu.

Analisis:

Produk paling diminati: Keripik Pisang.

Kapasitas produksi: 60 kemasan.

Jumlah produksi yang direncanakan: 55 kemasan.

Cadangan: 5 kemasan.

Keputusan:

Jenis produk: Keripik Pisang

Jumlah produksi: 60 kemasan per minggu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAB I PENJUALAN ANGSURAN

PENGERTIAN PENJUALAN ANGSURAN Penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayarannya  dilaksanakan secara bertahap. Pada saat barang-barang diserahkan kepada pembeli, pejual menerima pembayaran pertama sebagian dari harga penjualan. Sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran. Untuk menghindari resiko karena pembeli tidak membayar dan supaya penjual tidak mengalami kerugian, maka biasanya saat membeli ada beberapa perjanjian, antara lain: 1.      Pada saat membeli disertai dengan meninggalkan jaminan ke penjual. 2.      Hak kepemilikan barang berpindah ke pembeli, kalau pembayarannya sudah lunas. Untuk mengurangi kemungkinan kerugian yang terjadi dalam pemilikan kembali, factor-faktor yang harus diperhatikan penjual : 1.      Besarnya pembayaran pertama (down payment). 2.      Jangka waktu pembayaran.                      ...

Bab XII Penerapan Ilmu Ekonomi dalam Kegiatan Usaha

Menerapkan Ilmu Ekonomi dalam Kegiatan Usaha Prinsip Ekonomi Semua tindakan ekonomi, apakah itu menghasilkan barang (kegiatan produksi), menyalurkan barang kepada pihak yang membutuhkan (kegiatan distribusi), atau menggunakan barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan (kegiatan konsumsi), harus selalu didasarkan pada prinsip ekonomi. Masalah pokok yang dihadapi semua orang adalah kelangkaan alat pemuas kebutuhan dibandingkan kebutuhan yang tak terbatas. Oleh karena itu, manusia harus pandai-pandai menentukan kebutuhan mana yang harus dipenuhi lebih dahulu dengan alat pemuas yang tersedia. Agar dapat membuat pilihan terbaik, manusia harus memerhatikan prinsip ekonomi.  Prinsip ekonomi dapat dijabarkan sebagai berikut. Dengan pengorbanan tertentu, manusia akan berusaha untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya. Untuk memperoleh hasil tertentu, manusia akan berusaha untuk melakukan pengorbanan sekecil-kecilnya. Semua tindakan ekonomi, apakah itu menghasilkan barang (kegiat...

Bab IV Asumsi, Prinsip dan Konsep Dasar Akuntansi

A.  Asumsi Dasar Akuntansi Dalam prakteknya akuntansi berjalan berdasarkan asumsi-asumsi, agar dapat lebih mudah diterima atau dilakukan. Adapun asumsi-asumsi dasar yang dipakai dalam dunia akuntansi adalah sebagai berikut: a. Kesatuan usaha khusus (Separate entity/Economic entity) Perusahaan dipandang sebagai suatu unit usaha yang berdiri sendiri, terpisah dari pemiliknya. Maksudnya, walaupun perusahaan itu dimiliki oleh seseorang, tetap saja perusahaan itu dianggap sebagai sebuah badan yang terpisah dari pemiliknya. Seperti: terpisah kekayaannya dari kekayaan pemilik, terpisah utangnya dari utang pemilik. b. Kontinuitas usaha (Going concern/continuity) Suatu perusahaan itu akan hidup terus, dalam arti diharapkan tidak akan terjadi likuidasi di masa yang akan datang. Penekanan dari konsep ini adalah terhadap anggapan bahwa akan tersedia cukup waktu bagi suatu perusahaan untuk menyelesaikan usaha, kontrak-kontrak dan perjanjian-perjanjian. c. Penggunaan unit moneter dalam pencat...